PERENCANAAN PEMBELAJARAN MODEL DICK, CAREY AND CAREY DIKAITKAN DENGAN POLA DI NEGARA INDONESIA
Nurmala Sari
2014820226
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
Jln. Ki Mangun Sarkoro. No 45 Kota Bekasi
Sarinurmala697@gmail.com
ABSTRAK
This study aims to determine the instructional plan models Dick, Carey and Carey associated with a pattern in the country of Indonesia in terms of instructional steps models dick, Carey and Carey include: Identifying the purpose of learning, Doing learning analysis, to analyze the characteristics of the students and the learning context, formulate objectives specialized learning, develop assessment instruments, develop instructional strategies, developing and selecting teaching materials, designing and developing the formative evaluation, Conduct revision of the learning program, Designing and developing a summative evaluation. While the steps of learning in the country of Indonesia include: Lists Identity, formulate learning objectives, Determining Learning Materials, Methods of Determining the Learning, Teaching and Learning Establish, Choose Learning Resources, Define Assessment. This research method is a type of qualitative research with descriptive approach.
Keywords: Dick, Carey and Carey,Indonesia, Instructional
I. PENDAHULUAN
Pembelajaran merupakan bagian dari pendidikan, dan merupakan bagian proses yang langsung berkaitan dengan siswa. Upaya peningkatan proses pembelajaran dilakukan dengan berbagai usaha, termasuk melalui perencanaan pembelajaran. Banyak ahli percaya bahwa perencanaan pembelajaran yang baik akan menghasilkan proses yang baik pula. Dengan pemikiran ini, maka kajian tentang perencanaan pembelajaran yang efektif, tidak kalah penting dengan kajian konsep pendidikan lainnya.
Salah satu perencanaan pembelajaran yaitu model Dick, Carey and Carey. Secara teoritis perencanaan pembelajaran ini menawarkan sistematika berpikir prosedural, yang akan menjadi dasar pengembangan desain lainnya, sehingga pemahaman yang lengkap mengenai perencanaan pembelajaran Dick and Carey, akan menjadi dasar pemahaman bagi model desain pembelajaran yang lain seperti model Dick, Carey and Carey disesuaikan dengan pola sekolah yang ada di negara Indonesia, pemikiran inilah yang kemudian menjadikan model desain pembelajaran Dick and Carey menarik untuk dikaji.
Salah satu indikator keberhasilan proses pembelajaran adalah aktivitas siswa di dalam pembelajaran, Agar dapat mencapai keberhasilan ini, maka diperlukan desain pembelajaran yang matang dari mulai tujuan, memahami karakter siswa yang akan menjalankan pembelajaran, menentukan model atau strategi yang tepat, dan evaluasi. Kaitannya dengan hal tersebut di atas peneliti ingin mendeskripsikan bagaimana langkah-langkah pembelajaran model Dick, Carey and Carey dengan pola yang ada di Indonesia. Sehingga dilakukan penelitian dengan judul “ Perencanaan Pembelajaran Model Dick, Carey and Carey Dikaitkan dengan Pola di Negara Indonesia.
Komponen model pembelajaran dick and carey meliputi; pembelajar, pengajar, materi, dan lingkungan. Demikian pula dilingkungan pendidikan non formal meliputi; warga belajar (pembelajar), tutor (pengajar), materi, dan lingkungan pembelajaran. Semua berinteraksi dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Komponen dan tahapan model pembelajaran dick and carey lebih kompleks jika dibandingkan dengan model pembelajaran yang lain seperti Morrison, Ross, dan Kemp. Walaupun model Morrison, Ross, dan Kemp juga memandang desain pembelajaran sebagai sebuah sistem, tetapi sedikit berbeda. Mereka menyebutkan desain pembelajaran sebagai metode yang sistematis tetapi bukan pendekatan sitematis. Tahapan yang digunakan yaitu perencanaan, pengembangan, evaluasi, dan management proses.
Selain itu, sebuah bahan ajar bukan hanya untuk dibaca, tetapi melibatkan unsur-unsur proses pembelajaran. Dick and Carey melalui kegiatan mendesain, mengembangkan, mengimplementasi, dan mengevaluasi. Kedua-duanya tidak jauh berbeda dan masing-masing merupakan sebuah sistem. Kegiatan melalui tahapan-tahapan inilah yang disebut sebagai kegiatan mendesain pembelajaran
Pada umumnya, tahap pertama dalam desain pembelajaran adalah analisis untuk mengetahui kebutuhan dalam pembelajaran, dan mengidentifikasi masalah-masalah apa yang akan dipecahkan. Model pembelajaran dick and careymenerapkan tahapan dimaksud, dengan demikian pengembangan yang dilakukan berbasis pada kebutuhan dan pemecahan masalah.
Dari model di atas dapat dijelaskan sebagai berikut bahwa model pembelajaran dick and carey terdiri dari 10 langkah. Setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya sehingga bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain. Kesepuluh langkah pada model pembelajaran dick and carey menunjukan hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan yang lainya. Dengan kata lain, system yang terdapat pada pembelajaran dick and carey sangat ringkas, namun isinya padat dan jelas dari satu urutan ke urutan berikutnya.
II. PEMBAHASAN
A. Model Pembelajaran Dick and Carey
Dick and Carey memandang desain pembelajaran sebagai sebuah sistem dan menganggap pembelajaran adalah proses yang sitematis. Menurut Dick and Carey bahwa pendekatan sistem selalu mengacu kepada tahapan umum sistem pengembangan pembelajaran (Instructional Systems Development/ISD).Komponen model pembelajaran dick and carey meliputi; pembelajar, pengajar, materi, dan lingkungan. Demikian pula dilingkungan pendidikan non formal meliputi; warga belajar (pembelajar), tutor (pengajar), materi, dan lingkungan pembelajaran. Semua berinteraksi dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Komponen dan tahapan model pembelajaran dick and carey lebih kompleks jika dibandingkan dengan model pembelajaran yang lain seperti Morrison, Ross, dan Kemp. Walaupun model Morrison, Ross, dan Kemp juga memandang desain pembelajaran sebagai sebuah sistem, tetapi sedikit berbeda. Mereka menyebutkan desain pembelajaran sebagai metode yang sistematis tetapi bukan pendekatan sitematis. Tahapan yang digunakan yaitu perencanaan, pengembangan, evaluasi, dan management proses.
Selain itu, sebuah bahan ajar bukan hanya untuk dibaca, tetapi melibatkan unsur-unsur proses pembelajaran. Dick and Carey melalui kegiatan mendesain, mengembangkan, mengimplementasi, dan mengevaluasi. Kedua-duanya tidak jauh berbeda dan masing-masing merupakan sebuah sistem. Kegiatan melalui tahapan-tahapan inilah yang disebut sebagai kegiatan mendesain pembelajaran
B. Strategi dan Desain Pembelajaran Dick, Carey and Carey
Strategi dan desain pembelajaran menurut Dick dan carey adalah komponenkomponen umum dari suatu bahan pembelajaran dari prosedur-prosedur yang akan digunakan dalam pembelajaran untuk mengahasilkan hasil belajar tertentu. Menurut mereka strategi pembelajaran bukan hanya terbatas prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.Pada umumnya, tahap pertama dalam desain pembelajaran adalah analisis untuk mengetahui kebutuhan dalam pembelajaran, dan mengidentifikasi masalah-masalah apa yang akan dipecahkan. Model pembelajaran dick and careymenerapkan tahapan dimaksud, dengan demikian pengembangan yang dilakukan berbasis pada kebutuhan dan pemecahan masalah.
Dari model di atas dapat dijelaskan sebagai berikut bahwa model pembelajaran dick and carey terdiri dari 10 langkah. Setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya sehingga bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain. Kesepuluh langkah pada model pembelajaran dick and carey menunjukan hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan yang lainya. Dengan kata lain, system yang terdapat pada pembelajaran dick and carey sangat ringkas, namun isinya padat dan jelas dari satu urutan ke urutan berikutnya.
Langkah-langkah Pembelajaran model Dick, Carey and Carey dikaitkan dengan pola yang ada di Indonesia
1) Mengidentifikasi tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran idealnya diperoleh dari analisa kebutuhan yang benar benar mengindikasikan adanya suatu masalah yang pemecahannya adalah dengan memberikan pembelajaran (Dick, et al, 2001: 19). Contoh kegiatan pembelajaran yang ada di Indonesia, Misalnya : ”Mendapat informasi tentang sistem peredaran darah pada manusia”. Menganalisa suatu materi dari yang termudah, sedang dan sulit.
Tujuan pembelajaran, boleh salah satu atau keseluruhan tujuan pembelajaran, misalnya peserta didik dapat
a. Mendeskripsikan mekanisme peredaran darah pada manusia.
b. Menyebutkan bagian-bagian jantung
c. Merespon dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman sekelasnya.
d. Mengulang kembali informasi tentang peredaran darah yang telah disampaikan oleh guru.
Bila pembelajaran dilakukan lebih dari 1 (satu) pertemuan, ada baiknya tujuan pembelajaran juga dibedakan menurut waktu pertemuan, sehingga tiap pertemuan dapat memberikan hasil.
2) Melakukan analisis pembelajaran
Tujuan utama analisis pembelajaran adalah mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan yang harus ada pada pembelajaran (Dick, et al, 2001: 37). Kompetensi pengetahuan yang ada di Indonesia yaitu mengarahkan peserta didik mempunyai pengetahuan (factual, konseptual, dan procedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya, terkait fenomena dan kejadian tampak nyata. Kompetensi keterampilan yang ada di Indonesia yaitu peserta didik dapat mencoba, mengolah dan menyajikan dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat. Pembelajaran keterampilan psikomotor biasanya memerlukan perpaduan keterampilan intelektual dan keterampilan motorik. Langkah pertama untuk analisa dilakukan dengan menerapkan prosedur analisis hierarkis (Dick, et al, 2001: 81)
3) Menganalisis karakteristik siswa dan konteks pembelajaran
Selain melakukan analisis tujuan pembelajaran, hal penting yang perlu dilakukan dalam menerapkan model ini adalah analisis terhadap karakteristik siswa yang akan belajar dan konteks pembelajaran. Kedua langkah ini dapat dilakukan secara bersamaan atau paralel. Analisis konteks meliputi kondisi-kondisi terkait dengan keterampilan yang dipelajari oleh siswa dan situasi yang terkait dengan tugas yang dihadapi oleh siswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari. Analisis terhadap karakteristik siswa meliputi kemampuan aktual yang dimiliki oleh siswa, gaya belajar, dan sikap terhadap aktivitas belajar. Identifikasi yang akurat tentang karakteristik siswa yang akan belajar dapat membantu perancang program pembelajaran dalam memilih dan menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan
4) Merumuskan tujuan pembelajaran khusus
Perumusan tujuan khusus pembelajaran merupakan pernyataan tentang apa yang akan dicapai siswa setelah mereka selesai mengikuti kegiatan pembelajaran. Dalam merumuskan tujuan pembelajaran khusus, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu :
a. menentukan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh siswa setelah menempuh proses pembelajaran
b. kondisi yang diperlukan agar siswa dapat melakukan unjuk kemampuan dari pengetahuan yang telah dipelajari. Komponen kondisi dalam tujuan pembelajaran khusus menyebutkan sesuatu yang secara khusus diberikan atau tidak diberikan ketika pebelajar menampilkan perilaku yang ditetapkan dalam tujuan (Degeng, 1999: 2). Komponen kondisi bisa berupa bahan dan alat, informasi dan lingkungan.
c. indikator atau kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam menempuh proses pembelajaran. Kriteria yang relevan tersebut dapat berupa kecermatan, waktu (kecepatan), kesesuaian dengan prosedur, kuantitas atau kualitas hasil akhir (Degeng, 1999: 5)
5) Mengembangkan instrumen penilaian
Berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, langkah selanjutnya adalah mengembangkan alat atau instrumen penilaian yang mampu mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Yang perlu diperhatikan dalam menentukan instrumen evaluasi yang akan digunakan adalah instrumen harus dapat mengukur performa siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Beberapa tujuan pembelajaran tidak bisa diukur dengan tes obyektif tetapi harus diukur unjuk kerja dengan pengamatan penilai. Untuk membuat instrumen penilaian ini harus dilakukan pemberian skor untuk tiap langkah yang dilakukan oleh pelajar (Dick, et al, 2001:173).
Teknik penilaian yang ada di Indonesia yaitu sebagai berikut
1) Teknik Tes
Dilihat dari bentuknya, maka penilaian jenis tes ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Tes Tertulis
Tes tertulis adalah tes yang soal-soalnya harus dijawab peserta didik dengan memberikan jawaban tertulis. Jenis tes tertulis secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: tes bentuk uraian dan tes objektif.
b. Tes lisan
Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik
c. Tes Perbuatan
Tes perbuatan yakni tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan pelaksanaan tugasnya dinyatakan dengan perbuatan atau unjuk kerja. Penilaian tes perbuatan dilakukan sejak peserta didik melakukan persiapan, melaksanakan tugas, sampai dengan hasil yang dicapainya
2) Teknik Non-Tes
Teknik non-tes sangat penting dalam mengevaluasi siswa pada ranah afektif dan psikomotor, berbeda dengan teknik tes yang lebih menekankan asfek kognitif. Ada beberapa macam teknik non-tes, yakni: pengamatan (observation), wawancara (interview), kuesioner/angket(quetionaire), daftar cek (check list).
3) Asesmen Berbasis Kelas
Asesmen atau penilaian berbasis kelas merupakan salah satu pilar dalam kurikulum berbasis kompetensi. Asesmen berbasis kelas ini bisa dipandang sebagai proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil-hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti otentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik. Proses ini mengidentifikasi pencapaian kompetensi atau hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dicapai disertai dengan peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan. Asesmen berbasis kelas terdiri dari beberapa macam, yaitu:
a. Asesmen portofolio (portfolio) - (pembahasan tersendiri
b. Asesmen kinerja (performance) - (pembahasan tersendiri)
c. Penilaian melalui tes tertulis - (sudah dijelaskan sebelumnya
d. Penilaian afektif siswa
6) Mengembangkan strategi pembelajaran
Berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan sebelumnya, perancang program pembelajaran dapat menentukan strategi yang akan digunakan dalam pembelajaran. Strategi yang digunakan disebut strategi pembelajaran atau instructional strategy. Asal konsep strategi pembelajaran adalah the events of instruction yang digambarkan oleh Gagne dalam bukunya Condition of Learning. Dick and Carey mengelompokkan kegiatan itu dalam lima komponen yaitu: 1) aktivitas pra pembelajaran, 2) penyajian materi atau isi, 3) partisipasi pelajar, 4) penilaian dan 5) aktifitas lanjutan (Dick, et al, 2001: 189).
Aktivitas pra pembelajaran dilakukan dengan memotivasi siswa, menginformasikan tujuan pembelajaran dan menginformasikan ketrampilan prasyarat pada pelajar. Selanjutnya dilakukan penyajian materi. Kegiatan ini bukan hanya untuk menjelaskan konsep konsep baru saja, tetapi juga menjelaskan hubungan antar konsep. Desainer juga memutuskan berapa jenis dan jumlah contoh yang akan diberikan untuk tiap tiap konsep.
Salah satu komponen yang paling kuat dalam proses pembelajaran adalah latihan dengan umpan balik. Desainer harus memberikan aktivitas yang relevan dengan tujuan disertai dengan umpan balik atau informasi tentang unjuk kerja mereka. Sedangkan untuk kegiatan lanjutan, desainer meninjau lagi strategi secara keseluruhan untuk menentukan berhasilnya proses belajar.
Aktivitas pra pembelajaran di Indonesia yaitu bersifat umum dan tidak berhubungan langsung dengan kompetensi atau materi yang akan dibahas dalam kegiatan inti. Usaha yang dapat dilakukan guru pada tahap pra-pembelajaran yaitu:
· Menunjukkan sikap yang menarik. Sikap guru di depan kelas dapat mempengaruhi kondisi belajar siswa. Guru harus memperlihatkan sikap yang menyenangkan agar siswa tidak merasa takut, tegang, ragu, dan akhirnya tidak siap untuk mengikuti proses pembelajaran. Kondisi yang menyenangkan ini harus diciptakan dari awal pembelajaran agar siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan penuh semangat dan percaya diri tanpa ada tekanan yang dapat menghambat kreatifitasnya.
· Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Alat dan fasilitas belajar di kelas harus ditata dan dipersiapkan dengan rapi untuk memudahkan aktifitas belajar siswa. Buku-buku, alat tulis, dan alat bantu belajar seperti alat peraga yang akan digunakan harus telah dipersiapkan terlebih dahulu. Mulailah dengan memberi salam kepada siswa dan berdoa sebelum memulai pembelajaran agar suasana betul-betul menjadi menyenangkan.
· Memeriksa kehadiran siswa. Kegiatan ini biasa dilakukan oleh guru pada jam pertama pembelajaran. Guru tidak perlu memanggil satu persatu siswanya karena akan memakan waktu, cukup menanyakan siapa siswa yang tidak hadir kepada siswa yang hadir atau cukup melalui ketua kelas saja. Dengan selalu mengecek kehadiran, siswa akan termotivasi untuk disiplin dan membiasakan diri memberitahukan ketidakhadirannya kepada guru baik secara langsung maupun melalui teman.
· Menciptakan kesiapan belajar siswa. Kesiapan belajar siswa adalah salah satu prinsip belajar yang sangat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar siswa.
· Menciptakan suasana belajar yang demokratis. Untuk menciptakan suasana ini guru harus membimbing siswa agar berani bertanya, berani menjawab, berani berpendapat, berani mengeluarkan ide, dan berani unjuk kerja. Suasana belajar yang demokratis seperti ini harus diciptakan dari awal pembelajaran dan berlanjut sampai akhir pembelajaran.
7) Mengembangkan dan memilih bahan ajar
Bahan ajar memuat isi yang akan digunakan peserta didik untuk mencapai tujuan. Termasuk didalamnya adalah tujuan khusus dan tujuan umum dan semua yang mendukung terjadinya proses belajar dalam diri peserta didik. Bahan ajar juga berisi informasi yang akan digunakan peserta didik untuk memandu kemajuan mereka selama pembelajaran. Semua bahan ajar juga harus dilengkapi dengan tes obyektif atau pengukuran kemampuan peserta didik. Termasuk didalamnya adalah soal pre test dan post test. Selain bahan ajar, diperlukan juga petunjuk penggunaan bagi pembelajar dan pebelajar (Dick, et al, 2001: 245)
Pengembangan bahan ajar di Indonesia yaitu berdasarkan dengan ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, karakteristik sasaran, dan tuntutan pemecahan masalah belajar. Selain itu, pengembangan bahan ajar harus memperhatikan tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang akan kita kembangkan harus sesuai dengan kurikulum. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Standar Kompetensi Lulusan (SKL) telah ditetapkan oleh pemerintah, namun bagaimana strategi untuk mencapainya serta apa saja bahan ajar yang hendak digunakan merupakan kewenangan penuh dari para pendidik sebagai tenaga profesional. Dalam hal ini, guru dituntut sebagai pengembang kurikulum termasuk di dalamnya memiliki kemampuan dalam mengembangkan bahan ajar sendiri
8) Merancang dan mengembangkan evaluasi formatif
Tujuan dari evaluasi formatif adalah untuk mengumpulkan data yang terkait dengan kekuatan dan kelemahan pembelajaran. Hasil dari proses evaluasi formatif dapat digunakan sebagai masukan atau input untuk memperbaiki draf paket pembelajaran. Meskipun tujuan utamanya adalah mendapat data dari peserta didik tetapi tinjauan dari orang lain yang juga ahli merupakan hal yang penting (Dick et al, 2001: 285)
Tiga jenis evaluasi formatif dapat diaplikasikan untuk mengembangkan produk atau program pembelajaran, yaitu :
· Evaluasi perorangan
· Evaluasi kelompok kecil
· Evaluasi lapangan
Evaluasi perorangan merupakan tahap pertama dalam menerapkan evaluasi formatif. Evaluasi ini dilakukan melalui kontak langsung dengan minimal tiga orang calon pengguna program untuk memperoleh masukan tentang kesalahan kesalahan yang tampak dalam bahan ajar dan memperoleh petunjuk awal daya guna bahan ajar dan reaksi peserta didik pada isi bahan ajar. Untuk tahap ini dipilih satu orang peserta didik yang memiliki kemampuan diatas rata-rata, satu orang berkemampuan sedang dan satu orang berkemampuan dibawah rata-rata.
Evaluasi kelompok kecil dilakukan dengan menguji cobakan program terhadap kelompok kecil calon pengguna. Evaluasi ini dilakukan untuk menentukan efektivitas perubahan yang telah dibuat setelah evaluasi perorangan dan mengidentifikasi masalah yang mungkin masih ada. Pada langkah ini, peserta didik bisa menggunakan bahan ajar tanpa interaksi langsung dengan pengembang.
Evaluasi lapangan adalah uji coba program terhadap sekelompok besar calon pengguna program sebelum program tersebut digunakan dalam situasi pembelajaran yang sesungguh
9) Melakukan revisi terhadap program pembelajaran
Langkah akhir dari proses desain pengembangan adalah melakukan revisi terhadap draf program pembelajaran. Data yang diperoleh dari prosedur evaluasi formatif dirangkum dan ditafsirkan untuk mengetahui kelemahan- kelemahan yang dimiliki oleh program pembelajaran. Evaluasi formatif tidak hanya dilakukan pada draf program pembelajaran saja, tetapi juga terhadap aspek-aspek desain sistem pembelajaran yang digunakan dalam program, seperti analisis pembelajaran, entry behavior, dan karakteristik siswa. Prosedur evaluasi formatif, dengan kata lain, perlu dilakukan pada semua aspek program pembelajaran dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas program tersebut
10) Merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif
Evaluasi sumatif merupakan jenis evaluasi yang berbeda dengan evaluasi formatif. Jenis evaluasi ini dianggap sebagai puncak dalam aktivitas model desain pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick dan Carey. Evaluasi sumatif dilakukan dilakukan setelah program selesai dievaluasi secara formatif dan direvisi sesuai dengan standar yang digunakan oleh perancang. Evaluasi sumatif tidak melibatkan perancang program, tetapi melibatkan penilai independen. Hal ini merupakan satu alasan untuk menyatakan bahwa evaluasi sumatif tidak tergolong ke dalam proses desain sistem pembelajaran.
Kesepuluh langkah desain yang dikemukakan di atas merupakan sebuah prosedur yang menggunakan pendekatan sistem dalam mendesain sebuah program pembelajaran. Setiap langkah dalam desain sistem pembelajaran ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Output yang dihasilkan dari suatu langkah akan digunakan sebagai input bagi langkah-langkah selanjutnya.
III. KESIMPULAN
Perencanaan pembelajara merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dalam merancang kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik, kegiatan ini dari perancangan sampai kegiatan evaluasi terhadap semua sistem pengajaran dan hasil belajar yang dilaksanakan.
Komponen-komponen utama dalam penyusunan perencanaan pembelajaran:
1) Perencanaan pembelajaran selalu dimulai dari perumusan tujuan pembelajaran, apa yang diharapkan dari proses pembelajaran
2) Penulisan tujuan pembelajaran berisi komponen-komponen tentang kompetensi yang apa yang akan dicapai oleh peserta didik.
3) Setelah ditentukan kompetensi apa yang diharapkan dari peserta didik, maka ditentukan metode apa yang akan digunakan, media pembelajaran apa yang akan digunakan untuk menunjang proses pembelajaran.
4) Setelah semua kegiatan proses pengajaran dilaksanakan maka dilaksanakan proses evaluasi terhadap semua sistem pengajaran dan hasil belajar siswa.
Kesepuluh langkah pada model Dick and Carey menunjukan hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan yang lainya. Dengan kata lain, system yang terdapat pada Dick and Carey sangat ringkas, namun isinya padat dan jelas dari satu urutan ke urutan berikutnya, serta dalam penerapan model dick and carrey penguasaan karakteristik tiap siswa dapat dipahami sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
http://pendidikanpeternakan-hariyatun.blogspot.co.id/2012/05/model-rancangan-pembelajaran-dick-and.html. Diakses tanggal 7 November 2016
http://www.gurukelas.com/2011/08/kegiatan-pra-pembelajaran.html. Diakses tanggal 8 November 2016
http://pengembanganbahanjar.blogspot.co.id/2014/07/pemilihan-bahan-ajar.html. Diakses tanggal 9 November 2016
http://gadisgigikelinci.blogspot.co.id/2015/03/metode-teknik-dan-instrumen-penilaian.html. Diakses tanggal 9 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar